Jumat, 28 Oktober 2016

Generasi Z

Coba perhatikan anak-anak Anda yang kini menjelang usia remaja. Di tangan mereka pasti ada smartphone , di telinga mereka terselip headset, dan jari mereka tak pernah lepas dari keypad smartphone. Mereka yang disebut sebagai generasi Z (Gen Z) ini adalah generasi yang lahir antara tahun 1994 sampai tahun 2009. Gen Z adalah anak-anak atau orang yang sejak lahir sudah akrab dengan teknologi. Artinya, teknologi sudah menjadi bagian dari hidup mereka sejak mereka lahir ke dunia. Jadi, jangan heran jika anak-anak dari Gen Z sangat mahir menggunakan teknologi apa pun.

Dalam teori generasi (Generation Theory) hingga saat ini dikenal ada 5 generasi, yaitu: (1) Generasi Baby Boomer, lahir 1946-1964, (2) Generasi X, lahir 1965-1980, (3) Generasi Y, lahir 1981-1994. Generasi  Z, lahir 1995-2010, dan (5) Generasi Alpha, lahir 2011-2025. Generasi Z (disebut juga iGeneration,  Generasi Net, atau Generasi Internet) terlahir dari generasi X dan Generasi Y.

Generasi ZMereka lahir dan dibesarkan di era digital, dengan aneka teknologi yang komplet dan canggih, seperti: komputer/laptop, HandPhone, iPads, PDA, MP3 player, BBM, internet, dan aneka perangkat elektronik lainnya. Sejak kecil, mereka sudah mengenal (atau mungkin diperkenalkan) dan akrab dengan berbagai gadget yang canggih itu, yang secara langsung atau pun tidak langsung akan berpengaruh terhadap perkembangan perilaku dan kepribadiannya. Tuhana Taufiq Andrianto dalam Jusuf AN (2011) memperkirakan akan terjadi booming Generasi Z  sekitar tahun 2020.

Nah, dunia kita sekarang ini berada di tangan mereka, Gen Z. Generasi ini mengerjakan pekerjaan rumah, mengerjakan tugas sekolah, berkomunikasi dengan teman, semuanya melalui media internet. Entah Google, Wikipedia, Facebook, Twitter, dan sebagainya. “Nge-tweet  dengan smartphone , sambil sibuk browsing dengan PC tablet , di kupingnya (memakai, Red.) headset  dengerin musik,” kata Elly.

Artinya, mereka adalah anak-anak yang luar biasa, multitasking , instan, penuh tantangan, dan bisa mengatasi tantangan itu. Buat mereka, everything is interesting and fun  atau semua hal menarik dan menyenangkan. Inilah yang membuat mereka betah berlama-lama di dunia maya itu. Sementara di dunia nyata, acapkali mereka berhadapan dengan dunia yang penuh omelan, marah-marah, cap, labeling , membanding-bandingkan, dan sebagainya. Jadi, pola pengasuhan dan pola pembelajaran anak-anak Gen Z ini seharusnya juga berubah. Alias tidak lagi meniru pola pengasuhan generasi sebelumnya.



Generasi Millenial

Generasi millenial adalah istilah yang digunakan untuk menyebut generasi yang lahir pada periode 1982-an hingga awal tahun 2000-an. Generasi millienial atau yang juga dikenal dengan istilah generasi Y  ini bertumbuh menjadi para pengguna #teknologi modern berkat dukungan dari perkembangan teknologi yang semakin pesat.

Ketika generasi millenial yang modern mulai berbaur di lingkungan kerja, sebagian orang lain mungkin merasa kewalahan dengan perilaku generasi ini di tempat kerja. Mereka sering mengandalkan multitasking dan teknologi untuk mendukung pekerjaan. Bahkan tidak jarang generasi millenial terlibat bentrok dengan sesama rekan kerja.

Jika para pendahulu kita menekuni pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup, maka lain halnya bagi generasi millenial. Disamping mengutamakan kebutuhan hidup, ada tantangan yang ingin dipenuhi secara sempurna ketika memasuki dunia kerja. Kita bisa memahami keinginan generasi millenial yang haus akan tantangan agar mereka bisa ditempatkan pada posisi yang sesuai.

Kepandaian dan dedikasi yang dimiliki oleh generasi millenial akan semakin terasah bila kita mampu memberikan tantangan pekerjaan yang sesuai dengan bakat dan minat mereka. D samping itu, generasi millenial tidak akan segan memberikan dedikasi mereka kepada bisnis yang mereka anggap mampu menjadi sarana untuk menyalurkan aspirasi secara terbuka.



Digital Immigrant VS Digital Native

Zaman sekarang adalah era informasi, dan era informasi ini adalah era terevolusinya segala hal. Kita bisa melihat evolusi politik dari sistem konvensional menuju digital. Sudahkan Anda tahu, bedanya generasi digital immigrant dan digital native?

Digital Native adalah generasi yang lahir di masa ketika perkembangan teknologi digital berlangsung. Ciri-ciri generasi ini adalah tidak kikuk dan mudahnya mengoperasikan aneka gadget masa kini walau baru pertama kali menggunakannya, lebih melek media, suka berkelompok sosial di dunia maya, dan suka meng-update informasi tentang gadget maupun meng-upgrade gadget yang dimiliki. Generasi angkatan lahir tahun 1994 masih termasuk

Sedangkan Digital Immigrant adalah generasi yang pernah hidup di masa ketika teknologi belum berkembang lalu kemudian mengikuti masa perkembangannya hingga sekarang. Umumnya mereka perlu belajar terlebih dahulu dan tidak selalu mudah mempelajari perkembangan gadget-gadget masa kini. Ciri-ciri umum lainnya adalah lebih mengutamakan fungsi dasar, misalnya ponsel hanya untuk bertelefon dan sms sedangkan fitur lain tidak terlalu dioptimalisasikan meski ponsel tersebut ponsel pintar, sebagian besar perlu adaptasi lebih dari sehari dalam menggunakan gadget baru, belum melek media, tidak terlalu peduli dunia maya, dan Digital Nativer adalah salah satu pemandu mereka dalam belajar gadget. Angkatan lahir orangtua saya dan orangtua mereka jelas termasuk Digital Immigrant.
Digital native adalah kelompok yang saat mulai belajar menulis sudah mengenal internet atau yang saat ini berada di bawah 24 tahun.

Para generasi digital native cenderung lebih terbuka, blak-blakan, dan open minded. Jika mereka bilang suka, mereka bilang suka, dan jika tidak suka, mereka akan bilang tidak suka. Mereka juga merasa tidak masalah "membuka" apa yang disebut oleh generasi sebelum mereka sebagai privasi. Lahir pada jaman digital, setelah 1990an.

Maksudnya membuka privasi apa? Maksudnya adalah, mereka malah berlomba-lomba membuka kehidupan privasi mereka di status Facebook dengan menulis "@ mall X bareng temen", "sedih banget karena baru putus", "mau tidur", dan lain-lain. Generasi digital native gila kebebasan. Mereka tidak suka diatur dan dikekang.

Pada generasi ini, jika generasi  tidak suka suatu website, mereka bisa menutupnya saat itu juga. Mereka juga bebas untuk menolak atau menerima permintaan pertemanan di Facebook. Sebaliknya, jika mereka mendukung sesuatu, mereka akan berbondong-bondong mendukungnya dengan fanatik. Beberapa gerakan kepedulian ini dan itu sukses karena adanya generasi ini.

Generasi digital native mempunyai proses belajar yang sangat berbeda dibanding generasi digital immigrant. Generasi digital native  "jengah" ketika disuruh membaca Encyclopedia Brittanica, tapi toh mereka tahu banyak hal. Hal ini bisa terjadi karena mereka selalu berpacaran dengan "Google" dan search engine lain.

Kemampuan belajar mereka jauh lebih cepat karena segala informasi ada di ujung jari mereka. Digital native, suka berbagi notes Facebook, link bermutu di Twitter, ataupun video inspiratif di Youtube.


Kamis, 27 Oktober 2016

Kecakapan Berpikir

Pada suatu kesempatan, dalam sebuah penerbangan, pakar pendidikan dari Universitas Harvard, Dr. Tony Wagner duduk di samping rekayasawan Clay Parker yang memimpin divisi kimia di sebuah perusahaan multinasional dan berbincang-bincang.

Dalam kesempatan itu, perbincangan sampai pada kecakapan untuk hidup di dunia modern ini. Dr. Wagner bertanya kecakapan utama apa yang Tuan Parker paling cari pada pelamar kerja yang baru lulus dari universitas. Tuan Parker menjawab, “Pertama dan yang utama, saya mencari lulusan yang mampu membuat pertanyaan bagus.” Ini mengejutkan Dr. Wagner, karena tadinya ia berpikir jawabannya akan berkisar kecakapan praktis dan terkait langsung dengan pengetahuan teknisnya, yakni kimia rekayasa.

Sepanjang sejarah, kecakapan bertanya selalu merupakan kunci pembangunan peradaban manusia. Khususnya, pengetahuan ilmiah, teknologi, bahkan seni dan filsafat dapat berkembang terus sampai detik ini karena keberaniannya bertanya dan sikap tak mudah puas dengan jawaban.

Di dunia abad 21 dengan kehidupannya yang tiap detik lahir permasalahan baru sekaligus kompleks seperti sekarang, kemampuan menyelesaikan masalah yang belum pernah dihadapi sebelumnya menjadi semakin dibutuhkan manusia. Penyakit atau virus jenis baru yang belum pernah ada risetnya harus dihadapi kedokteran di masa sekarang. Permasalahan yang diakibatkan pemanasan global merupakan permasalahan yang benar-benar baru bagi manusia. Akibatnya kecakapan merumuskan pertanyaan guna menyelesaikan masalah kompleks menjadi semakin dibutuhkan, sepenting solusinya.

Coba kita renungkan video di bawah ini



Menurut World Economic Forum (WEF), ada 16 keterampilan penting yang diperlukan di abad 21. Keterampilan itu terbagi dalam 3 kategori, yaitu literasi dasar (foundational literacies), kompetensi (competencies), dan kualitas karakter (character qualities).

Literasi dasar berkaitan dengan kemampuan anak mengaplikasikan keterampilan ini pada kegiatan keseharian. Kompetensi berkaitan dengan kemampuan anak menyelesaikan tantangan kompleks. Sementara kualitas karakter berkaitan dengan kemampuan anak menyikapi perubahan lingkungannya.


Minggu, 25 September 2016

Jurnal Belajar Arsya dan Silla

Namanya Arsya dan adiknya Silla. Masih duduk di kelas 2, namun semangat belajar pemrograman animasi tidak kalah dengan yang lain. Beberapa peserta kursus animasi di Indie-School ada yang masih berusia belia, bgmn mengajarkan teknologi informasi kepada anak di usia belia, yang masih suka bermain dan fokus konsentrasinya sekitar setengah jam. Di indie-school kurikulum belajar khas atau unik antara satu anak dengan anak yang lain. Guru sebagai fasilitator, sehingga dalam sebuah workshop yang diselenggarakan masing-masing peserta boleh mengembangkan keinginannya masing-masing. Kemudian pada pelaksanaannya peserta dibawa kepada kebiasaan sehari-hari anak memainkan komputer ataupun gadget. Di dalam kelas orang tua boleh berpartisipasi dan ikut mendampingi. Sehingga jika suatu saat anak kesulitan sewaktu di rumah ada tempat untuk bertanya
yaitu orang tua.



Apakah mungkin one class, multiple learning? Dengan metode biasa one direction itu tidak memungkinkan. Tetapi jika menggunakan teknologi informasi dan online dengan berbagai macam sumber daya belajar hal itu menjadi mudah. Masing-masing peserta belajar bersama modul dasar selanjutnya diarahkan bagaimana menggunaka google search dan mengolah sumber belajar yang di dapat baik itu dari youtube, slideshare, dropbox maupun yang lain-lain. Ini beberapa project yang diselesaikan oleh Arsya dan Silla ...




Ini hasil karya mereka ....





Selasa, 09 Agustus 2016

Jurnal Belajar - Ibrahim

Jurnal Belajar Jurnal belajar merupakan dokumen yang ditulis secara terus menerus yang memuat perkembangan materi yang sedang dipelajari siswa. Dengan jurnal belajar peserta animasi siswa dan orang tua dapat mengetahui apa yang telah dipelajari siswa selama kursus dan juga hasil pekerjaannya setelah menyelesaikan sebuah materi.

 Dengan jurnal belajar membantu peserta memaknai apa yang dipelajari pada saat proses belajar animasi berlangsung. Isi Jurnal belajar meliputi :

  • Butir-butir yang ditemukan, khususnya materi yang menarik dari yang dibaca dan tertarik untuk ditindaklanjuti lebih detail 
  • Hasil pekerjaan berupa source code,kode program hasil pembelajaran. - Video rekaman, hasil proses pembelajaran 
  • Refleksi peserta terhadap materi dan kaitannya dengan kebutuhan peserta dalam pengembangan lebih lanjut. 
 Berikut ini contoh dari jurnal belajar Ibrahim, salah satu peserta kelas Animasi ...



Video Youtube hasil belajar



Ini link hasil pembelajarannya 


Sabtu, 06 Agustus 2016

Jurnal Belajar - Fio

Metodologi dalam mengembangkan bakat digital anak adalah penting di dalam menumbuhkembangkan minat dan kemampuannya. Di indie-school kurikulum belajar khas atau unik antara satu anak dengan anak yang lain. Guru sebagai fasilitator, sehingga dalam sebuah workshop yang diselenggarakan masing-masing peserta boleh mengembangkan keinginannya masing-masing.

Apakah mungkin one class, multiple learning? Dengan metode biasa one direction itu tidak memungkinkan. Tetapi jika menggunakan teknologi informasi dan online dengan berbagai macam sumber daya belajar hal itu menjadi mudah. Masing-masing peserta belajar bersama modul dasar selanjutnya diarahkan bagaimana menggunaka google search dan mengolah sumber belajar yang di dapat baik itu dari youtube, slideshare, dropbox maupun yang lain-lain.

Hari ini salah satu peserta Fio, kelas 4 SD belajar membuat animasi Lion King dan game permainan Make it Fly...


Hasil belajar hari ini :